Skip to main content

Kekeringan Asia Tenggara: Mengapa El Niño Bukan Satu-Satunya Penentu? (2026)

El Niño telah tiba, dan dampaknya paling tidak akan terasa hingga akhir tahun. Sekali lagi, Asia Tenggara dihantui ancaman kekeringan. Akan tetapi, sejumlah studi menunjukkan bahwa ada faktor-faktor lain yang memengaruhi.

Mengapa Asia Tenggara perlu waspada terhadap kekeringan?

“Sektor pertanian Asia Tenggara sangat rentan terhadap guncangan El Niño baru, mengingat dua komoditas utamanya, yaitu beras dan minyak kelapa sawit, sangat terkonsentrasi dan sangat sensitif terhadap anomali iklim,” ujar Jason Lee, ketua Southeast Asia Hub untuk Global Heat Health Information Network, seperti dikutip Deutsche Welle. “Paparan yang sangat ekstrem ini berarti bahwa apa yang dimulai sebagai guncangan di tingkat petani lokal dapat dengan cepat meluas menjadi krisis harga pangan dan inflasi sistemik yang lebih luas di seluruh kawasan.”

Menurut SEARCA (Southeast Asian Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture), di Asia Tenggara, kekeringan dapat melanda sawah, lahan pertanian dataran tinggi, perkebunan buah, area peternakan, kolam budidaya perikanan, hingga delta sungai.

Secara historis, Asia Tenggara memang cukup rentan terhadap kekeringan. Hal ini diungkapkan oleh tim studi pimpinan Tuyen V. Ha, ilmuwan dari German Remote Sensing Data Center, German Aerospace Center, Wessling.

“Daratan Asia Tenggara merupakan area penghasil tanaman pangan tadah hujan utama di dunia, dan wilayah ini semakin rentan terhadap bahaya kekeringan,” sebut tim Ha dalam naskah studi yang diterbitkan di International Journal of Applied Earth Observation and Geoinformation.

Kekeringan di kawasan ini, apabila terjadi, merupakan ancaman langsung bagi setidaknya 190-200 juta orang yang bekerja di sektor pertanian di Asia Tenggara. Itu belum termasuk ratusan juta lainnya yang bergantung pada hasil pertanian yang mereka kerjakan di lahan-lahan terdampak.

Tim Ha menjelaskan bahwa kekeringan merupakan peristiwa bahaya berdurasi lambat (slow-onset hazard) yang terjadi secara berulang dan memiliki dampak sangat besar terhadap produksi pertanian serta kesehatan ekosistem. “Akan tetapi, pemantauan dan karakterisasi kekeringan pertanian serta vegetasi di wilayah ini masih relatif kurang dipelajari,” jelas mereka.

Untuk mengisi celah tersebut, para peneliti menganalisis data satelit (MODIS) selama 22 tahun (2000–2021) untuk melihat kesehatan tanaman dan memetakan pola kekeringan di Asia Tenggara.

​Hasil temuan utamanya adalah bahwa pola kekeringan berbeda-beda di setiap wilayah.

​Myanmar bagian tengah merupakan wilayah yang paling sering kena kekeringan (hampir 60% dari kurun waktu tersebut), tetapi durasinya biasanya pendek. Sementara itu, di kawasan hilir Sungai Mekong, kekeringan tidak hanya sering datang, tetapi juga berlangsung sangat lama. Kamboja menjadi wilayah yang paling parah dihantam kekeringan dalam beberapa tahun terakhir dan tanahnya makin lama makin kering.

Tim Ha mencatat bahwa di Asia Tenggara, tahun-tahun kekeringan hebat terjadi pada tahun 2000, 2004, 2005, 2010, 2016, 2019, dan 2020—terutama menimpa Myanmar Tengah, Thailand, dan Kamboja.

Pola kekeringan juga tercatat telah bergeser. Pada dekade 2010-an, kekeringan parah lebih banyak terpusat di wilayah utara (seperti Myanmar tengah). Belakangan ini, area paling terdampak telah bergeser ke arah selatan, yaitu ke kawasan Mekong Hilir (Kamboja dan sekitarnya).

Secara historis, episode kekeringan di Asia Tenggara memang berkorelasi langsung dengan El Niño. Akan tetapi, menyimak penelitian tim Ha, pergeseran pola kekeringan di Asia Tenggara ini agaknya dipengaruhi faktor iklim skala besar lainnya.

Terkait curah hujan ekstrem di Asia Tengah

Di sebagian besar wilayah Asia, dampak perubahan iklim dirasakan melalui peningkatan peristiwa cuaca ekstrem, khususnya yang berkaitan dengan air. Di daratan Asia Tenggara, kekeringan menjadi semakin umum terjadi, sementara periode dengan jumlah curah hujan yang sangat besar meningkat di Asia Tengah.

Na Wang dan Sylvia Dee dari Department of Earth, Environmental and Planetary Sciences, Rice University, Houston—bersama dua kolega dari universitas lain—tertarik untuk memahami apakah kedua kondisi ekstrem ini saling berhubungan satu sama lain, meskipun secara geografis berjauhan. Temuan mereka diterbitkan di Nature Geoscience.

“Kami ingin mengetahui apakah peningkatan kekeringan dan curah hujan ekstrem terjadi secara independen satu sama lain, atau apakah keduanya didorong oleh faktor iklim berskala besar yang sama,” ujar Dee, seorang associate professor ilmu bumi, lingkungan, dan planet yang juga merupakan penulis senior dalam penelitian ini, seperti dikutip Rachel Leeson dalam siaran pers Rice University. “Memahami pola dalam iklim ekstrem ini dapat membantu komunitas yang terdampak untuk membangun ketahanan iklim dan bersiap menghadapi bencana yang berhubungan dengan air.”

Untuk melakukan hal tersebut, tim studi ini, yang juga beranggotakan Jun Hu (College of Ocean and Earth Sciences, Xiamen University, Xiamen) dan Kaustubh Thirumalai (Department of Geosciences, University of Arizona, Tucson), perlu melihat jauh ke belakang dalam sejarah iklim wilayah tersebut. Ini jauh lebih panjang daripada yang dapat disediakan oleh data cuaca terekam.

Jadi, tim peneliti beralih ke catatan paleoklimatologi, kumpulan data yang dibuat oleh sumber daya alam seperti lingkaran pohon, sedimen, dan lapisan es yang menyimpan bukti pola cuaca di masa lampau. Sebagai contoh, variasi lebar lingkaran pohon dapat menunjukkan tahun-tahun mana dalam kehidupan pohon yang lebih kering atau lebih basah.

Lapisan sedimen, yang diambil dari tempat-tempat seperti dasar danau atau rawa garam, dapat memberikan petunjuk lain. Lapisan yang lebih gelap menunjukkan periode basah, sementara lapisan yang lebih terang menunjukkan periode kering.

Telah berlangsung dua milenium
Dengan menganalisis dan menggabungkan berbagai jenis catatan yang dibuat oleh alam secara hati-hati, para ilmuwan dapat merekonstruksi pola cuaca dari ribuan atau bahkan jutaan tahun yang lalu.

“Kami menggunakan catatan paleoklimatologi yang dikumpulkan bersama untuk wilayah tersebut guna merekonstruksi pola kelembapan historis di daratan Asia Tenggara dan Asia Tengah hingga ribuan tahun ke belakang,” kata Wang, seorang alumni Rice dan penulis pertama studi ini.

“Kemudian kami menggunakan simulasi model iklim untuk melihat mekanisme yang mendorong curah hujan dan kekeringan ekstrem secara bersamaan, meneliti jalur fisik potensial yang dapat menghubungkan keduanya,” lanjutnya.

Model tersebut menunjukkan bahwa kekeringan dan curah hujan ekstrem yang terjadi secara bersamaan telah berlangsung di daratan Asia Tenggara dan Asia Tengah selama dua ribu tahun terakhir. Ini berarti, Wang menjelaskan, meskipun kekeringan dan curah hujan ekstrem adalah peristiwa yang bertolak belakang secara diametral, keduanya terhubung satu sama lain oleh pola iklim berskala besar.

Tim studi kemudian membandingkan periode kekeringan dan curah hujan tinggi saat ini dengan catatan sejarah. Meskipun periode kekeringan dan curah hujan tinggi selalu menjadi fitur reguler dari cuaca di wilayah tersebut, para peneliti menemukan bahwa frekuensi peristiwa ini baru-baru ini telah meningkat secara signifikan.

“Jika kita melihat catatan kekeringan baru-baru ini di daratan Asia Tenggara, yang menonjol bukan hanya bahwa ini termasuk di antara kekeringan paling ekstrem dalam satu milenium terakhir, tetapi juga bahwa kekeringan terjadi jauh lebih sering,” kata Wang. “Kami juga sekarang mengetahui bahwa frekuensi kekeringan yang tinggi ini terhubung dengan peningkatan periode curah hujan di Asia Tengah.”

Sistem yang berkembang
Menurut Wang, proyeksi model menunjukkan bahwa di bawah skenario pemanasan masa depan, hubungan antara hidroiklim ekstrem di kedua wilayah ini tidak hanya akan bertahan tetapi frekuensi peristiwa ekstrem jangka pendek juga diperkirakan akan meningkat.

Peristiwa hidroiklim ekstrem, seperti kekeringan atau periode curah hujan tinggi, sering kali memiliki dampak terbesar pada ekosistem dan komunitas di sekitarnya. Peningkatan frekuensi peristiwa ini, terlepas dari keparahannya, dapat memiliki dampak yang drastis.

“Hasil ini menyoroti pentingnya memahami cuaca ekstrem dan perubahan iklim sebagai sebuah sistem yang berkembang, alih-alih berfokus pada peristiwa yang terisolasi,” kata Dee. “Untuk memahami, merespons, dan memprediksi perubahan iklim, pertama-tama kita harus memahami kondisi garis dasar (baseline) sistem iklim menggunakan masa lalu sebagai prolog untuk risiko masa depan.”

Pendorong fisik dan risiko masa depan
Para ilmuwan belakangan ini telah menggeser paradigma, dari pendekatan deterministik yang sederhana ke pendekatan sistemik yang kompleks. Suatu tim studi lain menunjukkan bahwa studi di atas banyak benarnya: kekeringan di Asia Tenggara tidak hanya tergantung pada satu atau dua variabel saja.

“Pemahaman umum menunjukkan bahwa kekeringan tropis di Asia Tenggara berhubungan erat dengan variabilitas iklim alami seperti El Niño. Akan tetapi, kekeringan ekstrem pada tahun 2014 terjadi secara independen dari El Niño, yang mengindikasikan adanya dorongan dinamik lain yang berperan,” sebut tim pimpinan Shuping Ma (Department of Civil and Environmental Engineering, National University of Singapore, Singapura) dalam naskah studi mereka yang dimuat di Earth’s Future pada tahun lalu.

Pada awal tahun 2014, Asia Tenggara mengalami kekeringan ekstrem. Terkait dengan hal itu, tim Ma mengeksplorasi peran dari interaksi rumit antara proses dinamik dan termodinamika dalam pembentukan kekeringan.

Dengan lensa dan pendekatan berbeda dari tim Wang dan Dee, tim pimpinan Ma ini menunjukkan bahwa El Niño, yang seringkali menjadi “hantu” pembawa kekeringan di Asia Tenggara, bukanlah satu-satunya faktor. Kekeringan ekstrem (seperti pada 2014) bisa terjadi tanpa adanya fenomena El Niño.

“Kami menemukan bahwa kekeringan tahun 2014 utamanya disebabkan oleh subsidensi udara akibat divergensi troposfer tengah yang didorong oleh antisiklon, yang memicu defisit curah hujan signifikan, di mana hal ini diperparah oleh berkurangnya aliran masuk kelembapan maritim dari Pasifik Barat,” jelas mereka.

Tim Ma menjelaskan bahwa dengan memasukkan pendorong dinamik dan termodinamika ke dalam analisis probabilistik bivariat, mereka menemukan bahwa kemungkinan terjadinya kekeringan seperti tahun 2014 akan meningkat masing-masing sebesar 25% dan 43% di bawah jalur stabilisasi dan business as usual pada pertengahan abad (2030–2064).

Menurut mereka, peningkatan risiko kekeringan tersebut didominasi oleh perubahan proses dinamik yang dipicu oleh perubahan iklim, khususnya berkurangnya gerak vertikal troposfer tengah. Sementara itu, peran proses termodinamika dan struktur ketergantungan di antara keduanya tidak terlalu signifikan.

Akan tetapi, tim Ma menggarisbawahi, “ketidakkonsistenan antar-model yang signifikan dalam mengatribusikan tingkat kepentingan relatif dari faktor-faktor ini menyoroti tantangan dalam menggunakan model iklim saat ini untuk penilaian risiko yang andal.”